BI : Inflasi Juni akan Lebih Tinggi karena Tarif Listrik Naik

"Permasalahan komoditas pangan pada puasa dan lebaran tahun ini relatif jauh lebih baik dibandingkan tahun kemarin"
Ilustrasi (Net)

EKONOMI, KLIKPOSITIF -- Kenaikan tarif listrik dan pencabutan subsidi listrik golongan 900Va diprediksi bakal memicu inflasi yang lebih tinggi pada Juni ini ketimbang Mei lalu. Bank Indonesia menilai hal itu dipicu oleh penyesuaian tarif listrik pasca bayar.

Berdasarkan hasil Survey Pemantauan Harga (SPH) yang dilakukan oleh Bank Indonesia pada minggu pertama Juni, tingkat harga diprediksi mengalami inflasi 0,5 persen atau lebih tinggi dibandingkan realisasi bulan lalu, 0,39 persen.

"Namun, angka itu relatif lebih rendah jika dibandingkan inflasi Juni 2016 yang mencapai 0,66 persen. Inflasi 0,5 persen itu terjadi karena dampak kenaikan harga tarif listrik dan juga angkutan," katanya.

Ia menuturkan, permasalahan komoditas pangan pada puasa dan lebaran tahun ini relatif jauh lebih baik dibandingkan tahun kemarin, jadi sektor itu tidak memberikan dampak yang cukup berarti terhadap persentase inflasi.

Kendati demikian, Dody meyakini setelah Juni BI tidak melihat ada tekanan dari harga listrik yang memicu inflasi harga yang diatur pemerintah (administered price). "Meskipun ada tahun ajaran baru, tetapi kami tidak melihat lagi dampak dari kebijakan dari listrik," ujarnya.

Selain tarif listrik, kenaikan permintaan dan tarif angkutan juga bakal berkontribusi pada inflasi bulan ini. Hal itu sesuai dengan pola musiman setiap kali terjadi arus mudik lebaran.

Dengan asumsi pemerintah tak lagi melakukan kebijakan yang memicu inflasi, BI memperkirakan inflasi tahun ini masih di kisaran 4,36 persen atau sesuai dengan target inflasi BI empat plus minus satu persen.(*)