Harga Bawang Merah Masih Anjlok, Petani Solok Terus Merugi

"Kondisi ini sudah berlangsung sejak beberapa bulan terakhir"
Ilustrasi (irisindonesia.com)

SOLOK, KLIKPOSITIF -- Petani asal Kabupaten Solok kembali mengeluhkan rendahnya harga komoditas bawang merah. Bahkan mirisnya, harga bawang merah kualitas super saat ini hanya berkisar pada harga Rp9 ribu hingga Rp10 ribu perkilogram di tingkat pengepul.

Sebenarnya kondisi ini sudah berlangsung sejak beberapa bulan terakhir. Para petani mengaku merugi akibat harga penjualan panen yang tak sesuai dengan biaya produksi yang dikeluarkan. Bahkan bawang kualitas rendah hanya dibeli pengepul sekitar Rp3 ribu hingga Rp4 ribu perkilogram.

Salah seorang petani bawang asal kabupaten Solok, Kasmudi, mengatakan anjloknya harga bawang merah dipicu banjirnya bawang merah di pasaran, karena banyaknya petani yang menanam bawang merah.

"Seperti yang kita ketahui beberapa waktu lalu, banyak pejabat yang berjanji akan memperjuangkan harga bawang makanya petani kembali bergairah menanam bawang," ungkap Kasmudi melalui telpon genggamnya, Minggu 24 September 2017.

Diakuinya, upaya yang digembar gemborkan sejumlah pejabat itu sudah tidak menjadi rahasia umum. Namun hingga saat ini hasilnya masih mengawang dan belum tampak realisasinya ditengah-tengah para petani. Hal ini jelas membuat petani menjadi kecewa.

"Sepengetahuan kami, hingga saat ini belum ada Badan atau lembaga yang sebelumnya digadang-gadang bakal membeli hasil panen petani yang datang, atau kalau memang ada tentu kami tahu," sebut Kasmudi yang juga salah seorang anggota legislatif di Kabupaten Solok.

Kasmudi menduga, anjloknya harga bawang selain akibat melimpahnya produksi bawang merah, juga dipicu banyaknya bawang merah impor yang memasuki pasar-pasar yang ada di daerah. Kondisi tersebut membuat nilai jual bawang melemah akibat stok yang berlebih.

Di sisi lain, nasib para petani semakin dipusingkan dengan tingginya harga pestisida dan juga pupuk yang merupakan bagian dari biaya produksi yang cukup besar. Mau atau tidak mau, petani ... Baca halaman selanjutnya