Ternyata Warga Mampu Juga Beli Gas Untuk Masyarakat Miskin

"Diduga pendistribusian gas elpiji ini tidak tepat sasaran"
Ilustrasi (Net)

PADANG, KLIKPOSITIF -- Kepala Biro Perekonomian Setdaprov Sumbar Heri Nofiardi menjelaskan dari pantauan yang dilakukan di lapangan, kelangkaan dan naiknya harga Gas Elpiji 3 Kilogram terlihat tidak tepat sasarannya pendistribusian. Salah satunya masih ada rumah tangga yang tergolong mampu yang menggunakan gas yang bersubsidi tersebut.

Padahal kuotanya telah mengalami peningkatan jika dibandingkan dari tahun 2016 ke tahun 2017 ini. Seperti di tahun 2016, kuota Gas Elpiji 3 kilogrsm di Sumbar sebanyak 29.027.162 tabung, dan naik di tahun 2017 ini sebanyak 29.031.148 tabung. Artinya ada penambahan sebanyak 3.986 tabung atau naik 1,14 persen.

"Malah terbalik, kuota bertambah, namun barang langka. Kuat dugaan saya ialah pendistribusian yang tidak tepat sasaran," ucapnya, Selasa 10 Oktober 2017.

Persoalan itu terjadi pada tingkat pengecer, yang tidak memperdulikan golongan (mampu/tidak mampu) masyarakat yang membeli Gas Elpiji 3 kilogram tersebut. Untuk menyelesaikan persoalan ini, Kementerian ESDM (Energi dan Sumber Daya Mineral) perlu membuat aturan regulasi yang jelas.

Seharusnya ada regulasi yang mengatur pembelian gas bersubsidi. Salah satun contoh, gas itu dibeli menggunakan kartu khusus atau seperti Kartu Indonesia Sejahtera. Sehingga kenginan pemerintah untuk memberikan subsidi benar-benar tepat sasaran.

"Kalau selama ini, tidak ada aturan yang demikian, sehingga yang membeli dan bebas saja," katanya.

Dilanjutkan Heri kepemilikan kartu bisa berpedoman kepada pendistribusian beras sejahtera (Rastra). Saat ini, masyarakat kurang mampu yang mendapatkan jatah rastra itu untuk mengambil bantuan rastra-nya harus pakai kartu. Artinya, hal yang dilakukan dalam pendistribusian rastra, bisa dipedomani untuk pendistribusian gas subsidi.

[Joni Abdul Kasir]